Berita




Diskusi Mben Selasa dengan tema Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan

Selasa, 09 Mei 2017 | 10.00-12.00 WIB | Farsijana Adeney-Risakotta


Selamat pagi Indonesia,

Pemerintah pada tanggal 27 April 2017 merilis UU Pemajuan Kebudayaan. Dikatakan UU ini adalah hadiah hari Pendidikan Nasional, kemarin tanggal 2 Mei. Apa itu kebudayaan? Bagaimana kebudayaan dipelihara dan dimajukan? Siapa yang berhak memperjuangkan kebudayaan? Apa dari kebudayaan yang harus diperjuangkan? Apa desain kebudayaan untuk Indonesia yang berPancasila? Pertanyaan-pertanyaan ini akan didiskusikan dalam Mben Selasa, hari ini , jam 10-12 di Museum Dewantara Kirti Griya sebagai hasil kerjasama dengan Yayasan Griya Jati Rasa. Kiranya dari diskusi ini akan ada masukan untuk perubahan penyempurnaan UU.

Yang menarik, sejak pengumuman dilakukan di DPR RI, dokumen UU Pemajuan Kebudayaan belum dipublikasikan kepada publik. Kami sudah mencari informasinya di internet tetapi belum ada. Untuk brosur Mben Selasa kali ini anak-anak nusantara sedang menari tarian gaba-gaba. Saya ingat waktu kecil menarikannya bersama teman-teman di Ambon, juga dengan sepupu-sepupu di sana. Kang Rendra Agusta telah membuatnya dengan sangat indah. Maturnuwun kang. Anak-anak punya hak untuk mendapat kesenangan dan kebaikan dari berkesenian bersama. Keindahan dan kebaikan dalam bahasa Jawa adalah sama ucapannya "sae". Seperti dikatakan Ki Hadjar Dewantara, kesenian nusantara membentuk watak bangsa untuk mencintai tanah tumpah darah secara mendalam. Kebudayaan adalah cara membuat kehidupan makin luhur di hadapan sesama umat manusia. Indonesia marilah mencintai budayanya sendiri karena inilah jati diri kita sebagai insan Pancasilais. Salam damai budaya bangsa.


Rotasi Rumah Baca Semar di Kaliagung Kulon Progo

Minggu, 07 Mei 2017 | 18.00-21.00 WIB | Staf Griya Jati Rasa


Selamat malam Indonesia,

Rotasi Rumah Baca Semar ini dilakukan pertama kalinya sejak Rumah Baca Semar diluncurkan pada pertengahan bulan April 2017 yang lalu. Rotasi buku dilakukan untuk menyegarkan koleksi buku yang ada pada Rumah Baca Semar, sehingga dapat memperbaharui pengetahuan para pembaca Rumah Baca Semar.

Rotasi dilakukan setiap 2 minggu sekali, dan diharapkan kedepannya Yayasan Griya Jati Rasa juga dapat menambah program diskusi untuk anak-anak dan orang tua, pembaca Rumah Baca Semar, dengan tema yang akan ditentukan dan dirumuskan bersama.


Diskusi Mben Selasa Edisi Spesial HUT Museum Dewantara Kirti Griya ke-47 dan Ki Hadjar Dewantara ke-128 Tahun

Selasa, 09 Mei 2017 | 10.00-12.00 WIB | Galeri Foto Kegiatan | Farsijana Adeney-Risakotta


Selamat pagi Indonesia,

Menjadi perempuan adalah rahmat. Sebelum bisa menulis status untuk Indonesia, saya harus berlega hati memberi waktu untuk melakukan yang penting untuk hidup kita bersama. Perempuan mendiskusikan kegiatan hidup sehari-hari, bagaimana keadaan anggora keluarga, apa yang akan dimasakan, gimana tanaman-tanaman sudahkah mendapat nutrisi yang cukup. Kemarin saya masak ayam suweran untuk nasi kotak kegiatan diskusi khusus perayaan hari ulang tahun #MuseumDewantaraKirtiGriya ke 47 tahun dan 128 tahun umur Ki Hadjar Dewantara. Saya juga menghias tumpeng untuk dahar kembuli sesudah diskusi Mben Selasa spesial.

Ide-ide untuk menulis harus dierami dalam benak karena memberi waktu untuk belajar bahasa Jawa di perpustakaan Museum Dewantara Kirti Griya dengan sang guru, Kang Rendra Agusta. Di sore menilik adik dan bersama dengan keluarga Fakultas Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana melakukan ibadah syukur untuk merayakan hari ulang tahun Fakuktas Bisnis ke-32. Tiba di rumah sudah menjelang tengah malam sesudah ngobrol mendalam dengan beberapa orang di kampus termasuk mahasiswi yang terinspirasi dengan khotbah dari pak Weli Cang tentang menjadi berkat dalam kehidupan keragaman di Indonesia. Pagi ini saya menulis untuk sahabat-sahabat di Indonesia. Saya terharu karena dituntun Tuhan sehingga bisa belajar bersama dengan sahabat museum Dewantara Kirti Griya menggali bersama pemikiran dan praktek kebangsaan Ki Hadjar Dewantara. Ketika saya diminta oleh Ki Listyo H. Kris untuk memberikan sambutan sebagai perintis Mben Selasa, yang saya ingat mengatakan bahwa kita semua berkomitmen menjadikan Rumah Ki Hadjar Dewantara sebagai rumah belajar untuk baik warga tamansiswa maupun masyarakat luas. Pemikiran genuine dari Ki Hadjar Dewantara tentang Indonesia dalam membangun kebangsaan melalui pendidikan harus digali dan diimplementasi dalam tantangan dunia saat ini.

Diskusi Mben Selasa tanggal 2 Mei 2017 dengan narasumber Dr. Iwan Pranoto dan Prof Waryudi mendorong kita melihat pendidikan sebagai sarana untuk membangun critical thinking dalam konteks interaksi dengan kebudayaan dan demokrasi bangsa negara kesatuan Indonesia. Karakter pejabat dibentuk dari masa pendidikannya. Menjadikan peserta didik untuk mengerti keragaman bangsa sambil terus menjadi pribadi yang bisa berinteraksi dengan dunia dalam keutuhan sejati dirinya adalah tujuan luhur pendidikan nasional yang diperjuangkan Ki Hadjar Dewantara. Jadi itulah tugas kita bersama untuk terus menjadikan Indonesia sebagai tempat kita belajar mengakui kesalahan, kegagalan dalam sejarah bersama untuk terus maju membangun kekuatan bangsa dan negara menjadi bangsa yang merdeka batin, jiwa, politik, ekonomi dan budaya. Mben Selasa di #Museum Dewantara Kirti Griya sebagai hasil kerjasama dengan Yayasan Griya Jati Rasa adalah ruang belajar untuk pendidikan publik tentang hidup kebangsaan di Indonesia. Sebagai rumah, suasana diskusi yang penuh kekeluargaan dipertemukan dengan semangat mencari kebenaran yang dilakukan dengan rendah hati dan penuh hormat. Ki Hadjar Dewantara telah memberikan contoh kepada kita semua pada masa hidupnya, beliau adalah seorang yang menginisiasi diskusi, penulisan dan penerapan implementasi kebijakan kebangsaan dalam negara bangsa Indonesia.


Jalan sehat dan bazaar dalam Peringatan HUT Museum Dewantara Kirti Griya ke-47 dan Ki Hadjar Dewantara ke-128 Tahun dan Perenungan May Day

Selasa, 01 Mei 2017 | 06.00-12.00 WIB | Galeri Foto Kegiatan | Farsijana Adeney-Risakotta


Selamat malam Indonesia,

Tadi saya mengirimkan foto selamat hari buruh sedunia. Foto diambil dari kegiatan jalan sehat tadi pagi. Dalam acara ini, Griya Jati Rasa ikut berpartisipasi mengikuti Jalan Sehat, membuka stand Bazzar dan mengakomodasi penyediaan cemilan rebusan umbi dan kacang untuk para peserta Jalan Sehat. Sebelum Jalan Sehat, Pemanasan dilakukan bareng-bareng sambil senam diiringi gending Jawa. 900 peserta jalan sehat menyusuri rute jalan Tamansiswa ke Taman Wijaya Brata di mana pinesepuh Tamansiswa dibaringkan. Taman Wijaya dirawat indah. Ketika kami di sana, dari jauh saya bisa lihat gunung Merapi dan gunung Merbabu. Kang Rendra Agusta menulis refleksi indah untuk instagramnya dari foto yang saya ambil. Jadi saya kirim foto sedang tertawa lebar di 1 May. Apakah saya sedang tertawa untuk apa yang kemudian saya lihat terjadi di Jakarta? Tentu saja saya bersedih. Bukan karena bunga-bunga yang indah dibakar karena mereka juga akan musnah.

Saya sedih karena ketulusan para buruh ditumpangi kepentingan politik. Mengapa demo buruh bisa ricuh membawa kepada kekerasan yang cepat terkontrol sebelum menjadi makin beringas tak beradab? Jauh sebelum Labor Day dinyatakan sebagai hari perjuangan para buruh, Ki Hadjar Dewantara sudah mempersoalkan relasi buruh dan majikan yang dipelihara oleh penjajahan Belanda selama 300 tahun. Perguruan Tamansiswa dibangun berbeda dengan relasi buruh majikan karena prinsip kekeluargaan menjadi pemersatu antara guru, majelis luhur (pengurus yayasan) dan orang tua. Saya pernah cerita ketika Belanda memaksa Tamansiswa bayar pajak. Dalam relasi tanpa kelas, di dunia pendidikan tidak ada pajak. Jadi mengapa Indonesia tidak berbangga untuk melestarikan sikap budi luhurnya ketika perayaan hari buruh dilakukan hari ini, di #MayDay seperti yang diperlihatkan oleh KHD ketika semua barang2 Tamansiswa diambil karena tidak membayar pajak. Masyarakat yang simpatik dg Tamansiswa malahan memberikan semua barang yang sudah diambil oleh penjajah. Kepada elit politik, tolong biarkan warga biasa menjadi warga yang baik ketika menggunakan jubah agama ketika demo maupun ketika berjubah biasa, kausal yang membuatkan dekat dengan kemanusiaannya.


Pertemuan Sosialisasi Koperasi Griya Jati Rasa

Kamis, 27 April 2017 | 09.00-12.00 WIB | Galeri Foto Kegiatan | Staf Griya Jati Rasa


Selamat Sore Indonesia,

Pada hari ini, Kamis, 27 April 2017, Koperasi Griya Jati Rasa mengadakan pertemuan anggota dengan agenda Sosialisasi Pembentukan Koperasi dari Dinas Koperasi dan UMKM Daerah Istimewa Yogyakarta. Sosialisasi ini adalah kegiatan wajib yang harus diberikan kepada calon koperasi, untuk mengenalkan tentang perkoperasian di Indonesia dan syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi calon koperasi agar dapat mendirikan Koperasi yang berbadan hukum dan terregistrasi.

Perwakilan dari Dinas Koperasi dan UMKM daerah Istimewa Yogyakarta yang hadir ada dua orang, yaitu Bapak Hanif dan Bapak Sumadi. Bapak Hanif memberikan pemaparan materi yang berjudul "Perkoperasian". Dalam Pemaparannya, dijelaskan tentang dasar hukum pendirian koperasi, pengertian, landasan, asas dan tujuan koperasi, dan prinsip koperasi, serta alur tata cara pendirian koperasi. Pemaparan selanjutnya diberikan oleh Bapak Sumadi, yang memberikan materi tentang bentuk dan jenis koperasi, keanggotaan koperasi dan perangkat organisasi koperasi.

Setelah sesi tanya jawab, acara ditutup dengan doa dan makan siang bersama.


Berita Selanjutnya >>
Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Kreatifitas Bangsa untuk Keadilan dan Perdamaian
http://griyajatirasa.com || pondokjatirasa@yahoo.com || griyajatirasa@gmail.com|| 0274-545883
Kantor & Galeri : Jl. Dumung No. 100 CT VIII, Karanggayam, Depok, Sleman, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Follow Us :
Laboratorium Alam : Pondok Jati Rasa - Alas Wegode, Desa Giri Cahyo, Purwosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, Indonesia
Keputusan Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-000528.AH.01.04 Tahun 2015
Izin Operasional : Keputusan Kepala Badan Kerjasama dan Penanaman Modal Daerah Istimewa Yogyakarta, Nomor 222.914.GRJ.2015
© 2017 GRIYA JATI RASA