Perubahan iklim adalah tujuan pembangunan berkelanjtan (SDG) ke-13 yang merupakan komitmen internasional untuk mengatasinya. Sekalipun perubahan iklim berada pada tahap ke-13, tetapi dampaknya berkaitan dengan ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, kemiskinan sebagai akibat dari kebencanaan yang berdampak langsung pada masyarakat. Misalkan banjir bandang Sumatera dan berbagai bencana banjir di Jawa dan daerah lain di Indonesia.
Memperhatikan tantangan perubahan iklim, maka pengembangan pembangunan berkelanjutan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh masyarakat di Indonesia, Yayasan Griya Jati Rasa telah melakukan pergerakan mitigasi perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau berbasis masyarakat dan umat. Berbagai kegiatan ini melibatkan kemitraan baik pada pihak pemerintah, seperti badan perencanaan pembangunan daerah, berbagai instansi terkait, pemerintah kalurahan, institusi pendidikan tinggi, pihak swasta dan pemuda dilakukan di Yogyakarta, Jawa Tengah dan Papua. Kegiatan-kegiatan ini menunjukkan kolaborasi antara lembaga dengan masyarakat menjadi kunci penerima dan pelaksana program yang harus mengelola mitigasi perubahan iklim. Kalurahan Giricahyo di kapanewon Purwosari, kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi tempat dimana interaksi antara masyarakat untuk terlibat dalam implementasi kebijakan di tingkat desa bisa berinteraksi langsung dengan berbagai instansi terkait dan institusi akademik yang secara bersama melakukan pemberdayaan program-program konservasi hutan, pengembangan kelompok tani hutan, pertanian organik, perhitungan serapan karbon pada pohon-pohon yang ditanam dan berbagai kegiatan lainnya.
Untuk mempelajari langsung pergerakan mitigasi perubahan iklim ini, rombongan mahasiswa paska sarjana dan dosen yang berjumlah 18 orang dipimpin oleh Profesor Thomas Hilde Ph.D melakukan kunjungan lapangan ke kalurahan Giricahyo pada hari Jumat, 16 Januari 2026. Masyarakat dan pemerintah kalurahan Giricahyo menyambut mereka dengan mengemas program kunjungan yang diberikan nama Laku Nyawiji Wono Glagah. Letaknya dipintu paling barat dari kabupaten Gunung Kidul, kalurahan Giricahyo dengan luas wilayah 16.077.855 ha adalah daerah yang paling tepat untuk menunjukkan kesiapannya dalam menjadikan desa sebagai desa eco-wisata net-zero emisi pada tahun 2030. Lebih dari 70 wilayahnya adalah hutan dimana komunitas pertanian dikembangkan bersisian dengan penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon. Budaya âpadusanâ yang biasa dilakukan dalam tradisi rosul sadekah, masih terpelihara untuk merawat lebih dari ratusan pohon jati berumur ratusan tahun di hutan Glagah. Sekarang air telaga di sekitar hutan Glagah sudah kering, tetapi warga masih merawat dan memastikan bahwa pohon-pohon terjaga. Rasa hormat terhadap hutan Glagah yang merupakan bagian dari tanah kagungan dalem (sultan ground) telah memberikan pengalaman eco-wisata yang mendalam kepada tamu Yayasan Griya Jati Rasa, yaitu para dosen dan mahasiswa paska sarjana dari Kebijakan Publik Universitas Maryland di Amerika Serikat.
Professor Thomas Hilde Ph.D sebagai pemimpin yang juga telah membawa rombongannya mengunjungi Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan, sangat terkesan karena mahasiwanya bisa belajar langsung bagaimana masyarakat di tingkat desa dalam menterjemahkan kebijakan internasional seperti pembangunan berkelanjutan terkait dengan perubahan iklim. Warga kalurahan Giricahyo mempersiapkan desa secara bersama sehingga seluruh kegiatan dapat dinikmati oleh tamu-tamu.
Ada tiga kegiatan utama. Pertama, tamu berjalan dari joglo Mbah Gendruk ke hutan Glagah dimana juga dilakukan penanaman bibit pohon nyamplung yang diharapkan bisa mengembalikan air yang mengering pada telaga yang mengelilingi hutan jati Glagah.
Kedua, sarasehan berjudul Penguatan iman Islam untuk menata Giricahyo menjadi desa eco-wisata berbasis net-zero emisi pada tahun 2030. Tamu-tamu belajar tentang kerjasama antara umat berbeda agama sebagaimana terlihat dari pembicara-pembicara yang mewakili institusinya dalam menyampaikan paparannya. Pertama, pengantar sarasehan disampaikan oleh Farsijana Adeney-Risakotta PhD sebagai direktur Yayasan Griya Jati Rasa. Farsijana menekankan tentang pendekatan budaya harus digunakan sebagai suatu metodologi dalam menguatkan nilai moral dan keagamaan dimana masyarakat bersentuhan dengan persoalan pemulihan hutan sebagai cara mitigasi perubahan iklim. Kedua, Dr Ahmad Sihabul Millah MA sebagai rektor Institut Ilmu Alquran, AnNur Yogyakarta yang memaparkan tentang Islam dan Mitigasi Perubahan Iklim. Ketiga, Drs. Kisworo MSc sebagai dosen dari Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana yang membahas tentang Eco-wisata sebagai cara terintegrasi dalam mencapai net zero emisi di kalurahan Giricahyo pada tahun 2030. Pembicara keempat adalah Ir. Edi Supriyanto sebagai Direktur PT.Pandu Wijaya Negara yang membahas tentang tanaman Nyamplung atau dikenal dengan nama tamanu (Calophyllum Inophyllum) sebagai bioenergy dan decarbonisasi untuk mencapai net-zero emisi.Â
Kegiatan terakhir adalah pementasan wayang dengan judul Semar Mbangun Desa yang dilakukan oleh dalang anak, Ki Akbar Reza Mahendra. Sebelum pementasan dilakukan, panitia menyerahkan nasi tumpeng dan kaos Semar for Yogyakarta kepada Prof Hilde. Diharapkan kegiatan eco-wisata dengan kunjungan perdana dari tamu-tamu Universitas Maryland Amerika Serikat akan menggerakkan kalurahan Giricahyo mencapai tujuannya. Pada saat yang sama, program-program mitigasi perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau berbasis masyarakat dan umat yang difasilitasi oleh Yayasan Griya Jati Rasa dengan kemitraannya di berbagai daerah di seluruh Indonesia diharapkan akan memberikan manfaat langsung kepada kebangkitan pergerakan ekonomi berbasis masyarakat di tingkat pedesaan. Seperti terlihat langsung ketika tamu-tamu membeli oleh-oleh dari penjualan produk kelompok UKM yang ditampilkan selama kegiatan berlangsung. Mereka juga membayar per orang untuk mengikuti kegiatan Laku Nyawiji Wono Glagah ini. (Farsijana).
Berita publikasi dapat dibaca pada Jornal Jogja, Jogja Broadcast dan Kedaulatan Rakyat Jogja.