Perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau adalah tantangan yang harus dihadapi oleh pemuda/i Indonesia. Bonus demografi 2030 menjadi batu loncatan untuk pemuda/i Indonesia bisa memikirkan peluang kewirausahaan yang tepat. Bentuk usaha tersebut terkait dengan energi terbarukan, olahan limbah, olahan pertanian, konservasi hutan dan berbagai riset biotenologi hijau masa depan yang dapat dikembangkan dengan memperhatikan potensi masing-masing daerah asalnya.
Seminar dibuka dengan keynote speech GKR Hemas, Wakil Ketua DPD RI yang menekankan perubahan iklim bukanlah isu masa depan melainkan realitas hari ini, karena itu peran pemuda Indonesia sangat penting sesuai dengan survey dari Youth and Climate Network Indonesia tahun 2023, yang menunjukan 70% anak muda Indonesia memiliki kepedulian tinggi terhadap isu perubahan iklim namun masih terbatas akses dan kapasitas untuk berkontribusi aktif dalam aksi-aksi nyata. Karena itu melalui kegiatan seminar ini pemuda dari daerah-daerah yang bermukim di D.I. Yogyakarta mendapat pengetahuan dan ispirasi bagaimana bisa berkolaborasi dengan Yayasan Griya Jati Rasa, pihak pemerintah, swasta untuk bersama-sama melakukan mitigasi perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau. Transformasi ekonomi hijau tidak hanya soal teknologi energi terbarukan tetapi juga tentang perubahan paradigma dari ekonomi yang eksploitatif ke ekonomi yang regeneratif dan insklusif. Model ini mengedepankan prinsip keadilan ekologis, sosial dan antar generasi.
Yayasan Griya Jati Rasa berterima kasih kepada GKR Hemas yang telah memberikan rekomendasi untuk penggunaan Ruang Serbaguna di Gedung DPD RI D.I. Yogyakarta. Terima kasih juga disampaikan kepada PT. Pandu Wijaya Negara yang telah memberikan 1 bibit pohon Nyamplung kepada peserta. Ada 60 peserta dari Aceh sampai dengan Papua.