Jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Paliyan bersama Yayasan Griya Jati Rasa secara resmi meluncurkan gerakan konservasi lingkungan berbasis pemberdayaan ekonomi lokal bertajuk “Gerakan Menanam Empon-Empon, Jaga Lebah, dan Asuh Pohon”. Mengangkat tema “Kebun Sehat, Data Lengkap, Bumi Lestari: Petani GKJ Paliyan Mandiri dan Berdaulat”, acara ini dipusatkan di kompleks GKJ Paliyan, Kabupaten Gunungkidul.
Gerakan “Laku Nyawiji Bumi” (hidup menyatu dengan alam) hadir sebagai solusi konkret dalam menghadapi kerentanan kawasan tanah kapur (karst) di Kecamatan Paliyan yang mudah kering saat kemarau dan rawan erosi. Melalui program inovatif ini, masyarakat diajak untuk mengoptimalkan lahan kosong di bawah pohon-pohon besar milik warga dengan menerapkan aturan “Tiga Lantai Alam”:
1. Lantai Atas: Menjaga pohon-pohon besar tetap tegak berfungsi sebagai penyerap karbon (udara kotor). Pohon ini didata menggunakan GPS dan ditempeli plakat barcode (QR Code Asuh Pohon) sebagai bukti asal-usul (traceability) untuk pasar internasional.
2. Lantai Tengah: Budidaya lebah madu guna membantu proses penyerbukan hutan agar tidak punah, sekaligus menghasilkan produk premium berupa “Madu Sehat Rendah Emisi”.
3. Lantai Bawah: Penanaman empon-empon (kunir mangga, temulawak, kunyit, jahe merah) sebagai tanaman penutup tanah guna menjaga kelembaban, mencegah longsor, dan menyaring air hujan menjadi air bersih di dalam gua bawah tanah. Uniknya, tanah karst ini menghasilkan empon-empon berkualitas tinggi dengan kadar air pekat, berkisar antara 10% hingga 12%.
“Ini menjadi bukti nyata kepada pasar dunia bahwa petani desa di Gunungkidul bisa menghasilkan pendapatan tanpa harus menebang pohon sama sekali atau anti-gundul hutan. Semua modal pupuknya pun 100% organik, memanfaatkan hasil Panen Raya Eco-Enzyme milik jemaat sendiri,” ujar Farsijana Adeney-Risakotta, Ph.D, Direktur Yayasan Griya Jati Rasa dalam pemaparannya.
Selain peluncuran gerakan ekologi, acara ini ditandai dengan aksi gotong royong Panen Raya Eco-Enzyme oleh kelompok jemaat wanita dan kelompok Kespel (Menggoro Sanglor, Paliyan, dan Putat Ngembes). Warga menyaring cairan fermentasi untuk diaplikasikan langsung sebagai ampas pupuk dasar. Tak hanya itu, warga juga dilatih untuk mandiri secara ekologis melalui pembuatan Sabun Cuci Alami (MES) dari minyak kelapa serta Pupuk Cair Super (POC) agar limbah rumah tangga tidak meracuni sumur desa.
Data kepemilikan lahan, titik koordinat GPS, hingga sertifikat tanah warga yang dikumpulkan dalam program ini nantinya akan digunakan oleh Yayasan Griya Jati Rasa untuk mendorong pemerintah daerah melahirkan kebijakan baru (Peraturan Bupati). Regulasi tersebut diharapkan dapat melindungi hak-hak petani lokal serta mempermudah jalur ekspor produk jamu dan madu asli Paliyan ke pasar internasional maupun sektor pariwisata premium seperti Edge Resort Yogyakarta.
Melalui satu bahasa dan satu gerakan ini, petani GKJ Paliyan membuktikan bahwa komitmen menjaga iklim dunia dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kemakmuran dan kesehatan keluarga di desa.













