Dalam upaya memperkuat peran masyarakat sipil dalam menekan pemanasan global, Yayasan Griya Jati Rasa menyelenggarakan diskusi strategis di Kantor Bapperida DIY. Langkah ini dilakukan untuk mensinergikan inisiatif masyarakat dengan perencanaan pembangunan rendah karbon pemerintah daerah guna mempercepat pencapaian target ekonomi hijau di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari deklarasi pergerakan perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau berbasis masyarakat inisiatif dari Yayasan Griya Jati Rasa Bersama mitra-mitranya yang dicanangkan pada 22 April 2024 di IIQ An Nur. Sebagai jantung dari inisiatif ini, Kalurahan Giricahyo, Gunungkidul , ditetapkan sebagai lokasi Pilot Project Pariwisata Karbon Terpadu.
Keterlibatan Bapperida dalam diskusi ini menjadi kunci untuk menyelaraskan gerakan akar rumput dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029 yang memprioritaskan pembangunan berkelanjutan. Berdasarkan laporan terkini dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Yogyakarta terus mengejar target penurunan emisi gas rumah kaca melalui rehabilitasi lahan kritis yang pada tahun 2024 telah melampaui target pencapaian hingga 104%.
Inisiatif Yayasan Griya Jati Rasa mendukung capaian tersebut melalui tiga pilar utama pemberdayaan senilai Rp35 juta yang disalurkan melalui Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW):
Selain itu, Yayasan memberikan paket riset sebesar Rp13 juta kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) untuk meneliti potensi kelompok Eco-Enzyme Nusantara Bantul dalam narasi Karbon Islam Inklusif, terutama dikaitkan dengan prospek penurunan gas metana melalui olahan sisa bahan organik dari dapur rumah tangga masyarakat atau pesantren. Riset ini bertujuan menjadikan pesantren sebagai model nyata implementasi ekonomi hijau yang selaras dengan nilai-nilai agama dan memberdayakan kelompok masyarakat pengolah turunan eco enzyme untuk penguatan prospek pemasarannya.
Penetapan Giricahyo sebagai desa pilot project juga merupakan langkah taktis untuk menyambut delegasi dari Maryland University pada Januari 2027. Sebelumnya, pada 16 Januari 2026, kunjungan serupa dalam program Laku Nyawiji Wana Glagah telah membuktikan potensi kemandirian ekonomi desa, di mana kontribusi wisatawan sebesar $40 per orang dikelola langsung oleh kalurahan untuk pembiayaan kegiatan pementasan budaya dan lainnya.
Diskusi strategis ini diharapkan memperkuat ekosistem kemitraan antara sektor swasta (hospitality), akademisi, lembaga keagamaan, dan masyarakat desa dalam menghadapi tantangan krisis iklim global melalui aksi lokal yang berdaya. “Melibatkan Bapperida adalah cara kami memastikan bahwa setiap langkah masyarakat sipil terdokumentasi dan berkontribusi langsung pada penurunan suhu bumi secara sistemis,” ujar Farsijana Adeney-Risakotta Ph.D, Direktur Yayasan Griya Jati Rasa, selaku konseptor dari program multipihak mendukung pariwisata karbon terpadu di DI.Yogyakarta. Lebih lanjut dikatakannya, “Kami bersyukur karena kegiatan ini adalah puncak dari berbagai kegiatan yang dilakukan Yayasan Griya Jati Rasa dalam bulan Maret ini yang adalah pergerakan Griya Jati Rasa, karena HUT 11 Yayasan jatuh pada tanggal 28 Maret 2026”.
Program ini juga melibatkan Edge Resort Yogyakarta sebagai tempat pemasaran paket “Asuh Pohon” kepada tamu-tamu yang menginap di sana. Melalui kolaborasi ini, model ekonomi sirkular bukan lagi sekadar wacana, melainkan motor penggerak baru bagi ekonomi hijau Yogyakarta yang melibatkan komunitas lintas iman. Kegiatan ini juga dicanangkan menjadi bagian dari strategi rencana nasional pengendalian perubahan iklim di mana Yayasan Griya Jati Rasa akan menjadi kendalinya (Farsijana).