Yayasan Griya Jati Rasa bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) GKI I.S. Kijne Jayapura resmi menyelenggarakan pembekalan bagi mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Program Studi S1 Ilmu Teologi. Kegiatan yang berlangsung secara virtual melalui platform Zoom ini mengusung tema besar, “Reklaim Rahim Bumi Papua: Menagih Konsensus Agung Melalui Laku Nyawiji Bumi”.
Acara pembekalan ini menghadirkan narasumber utama, Farsijana Adeney-Risakotta, Ph.D, yang memaparkan pentingnya lompatan paradigma teologis dalam merespons krisis ekologis di Tanah Papua. Program ini menjadi kelanjutan konkret dari Seminar Mitigasi Perubahan Iklim yang sempat digelar oleh Yayasan Griya Jati Rasa pada November 2025 lalu.
Dalam paparannya, Farsijana Adeney-Risakotta menyoroti realitas kerusakan hutan adat Papua akibat keserakahan kapitalisme, kegagalan Proyek Strategis Nasional (PSN), serta proyek industri dan perumahan yang meninggalkan lahan dalam kondisi gundul serta terlantar. Melalui pendekatan Teologi Karbon, ia mengingatkan bahwa merusak Hutan Papua sama saja dengan memadamkan kesaksian fisik dari Terang spiritual Kristus (Phลs) di muka bumi, mengingat pohon (รts) diciptakan oleh Allah pada hari ketiga untuk merawat kesiapan hidup manusia.
Pembekalan ini secara resmi memperkenalkan Metodologi Teo-Ekologi SRI (Sadar, Reklaim, Inovasi) sebagai kebaruan akademis menggantikan metode klasik See-Judge-Act yang dinilai terlalu antroposentris (hanya berfokus pada manusia dan abai pada alam).
Metodologi SRI menuntut tiga tahapan aksi nyata bagi mahasiswa di lapangan:
1. Sadar: Membangunkan jemaat dari amnesia ekologis atas rusaknya rahim bumi Papua.
2. Reklaim: Menagih kembali Konsensus Agung dengan menggunakan mandat teologis kompas rohani (melalui metode lotere ayat berdasarkan nomor absen mahasiswa) guna merebut kembali kedaulatan lahan gundul.
3. Inovasi: Mengeksekusi Laku Nyawiji Bumi secara nyata melalui pembuatan benih tanaman lokal dan produksi pupuk organik jemaat.
Sebanyak 139 mahasiswa KKL akan diterjunkan langsung menjadi motor penggerak praksis di pedalaman Papua, dengan basis wilayah penempatan di Jemaat GKI di Biak. Aksi penanaman ini tidak dilakukan sendiri, melainkan berkolaborasi massal dengan jemaat lokal untuk mengasuh pohon iman.
Guna menunjang efektivitas di lapangan, para mahasiswa dibekali keterampilan teknis dengan belajar langsung kepada tokoh perempuan lokal, Mama Sofia dan Mama Wulan, dalam mengolah biji tanaman lokal menjadi benih unggul. Selain itu, aliansi strategis juga dijalin dengan Dinas Pertanian setempat untuk menguasai teknologi pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) dan Pupuk Organik Cair (POC) sebagai nutrisi alami tanah tanpa kimia kapitalisme.
Melalui gerakan kolektif ini, Jemaat GKI di Biak tidak hanya diajak memulihkan kantong mitigasi perubahan iklim global, tetapi juga didorong menciptakan kemandirian finansial melalui perdagangan karbon komunitas dan pelestarian komoditas ekonomi hijau lokal yang berkelanjutan.













