Penurunan suhu bumi menjadi tanggung jawab bersama seluruh umat manusia. Komitmen Yayasan Griya Jati Rasa untuk memastikan kegiatan penanaman pohon dan olahan Eco-Enzyme mengatasi penurunan gas rumah kaca, terutama gas metana yang diproduksi dari sisa sampah organic keluarga terus diperluas ke masyarakat. Hari Kamis, 12 Februari 2026, telah dilakukan panen Eco-Enzyme dengan 6 kelompok pengolahan Eco-Enzyme yang dilakukan pada pelatihan tanggal 6 November 2026 di Gereja Kristen Jawa Sarimulyo, di Kalurahan Catur Tunggal, Kapenewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan evaluasi dibimbing langsung oleh Tsalis Siswanti, Ketua Eco-Enzyme Nusantara Bantul sebagai narasumber pada pelatihan yang dilakukan tiga bulan lalu, 6 November 2025. Para peserta yang dibagi atas enam kelompok sangat antusias untuk melihat hasil kerja fermentasi buah-buah yang merupakan limbah organik sebagai produk Eco-Enzyme yang mempunyai banyak manfaat.
Farsijana Adeney-Risakotta, direktur Yayasan Griya Jati Rasa dalam sambutannya menyampaikan kepastiannya tentang peran penting Eco-Enzyme sebagai cairan pelumas bumi dalam fenomena perubahan iklim. Eco-Enzyme menjadi solusi untuk pengolahan limbah organic keluarga. Di Jawa, tradisi meragi seperti dalam pembuatan tempe, tahu, brem masih memerlukan produk Eco-Enzyme untuk membersihkan lingkungan industri produksinya. Jadi manfaat Eco-Enzyme apabila diproduksi oleh keluarga, selain bisa digunakan untuk membersihkan lingkungan di mana mereka tinggal dapat ditawarkan juga untuk perusahaan industri rumah tangga untuk membersihkan lingkungan produksi olahan fermentasi kacang kedelai.
Pada kesempatan itu, Farsijana juga terlibat melakukan pelatihan kepada kelompok olahan Eco-Enzyme terkait produk turunanya untuk membuat shampo alamiah dan cairan deterjen alamaih yang bisa dimanfaatkan oleh keluarga. Adapun tujuan memberikan pengetahuan dan pengalaman langsung kepada peserta untuk mengerti keterhubungan antara fenomena perubahan iklim dengan transformasi bisnis hijau. Diharapkan anggota masyarakat akan mulai terbiasa menggunakan bahan-bahan pembersih lingkungan yang dapat diuraikan langsung oleh bumi. Peserta antusias mengikuti pelatihan ini dan mereka membawa pulang satu botol 200 ml Eco-Enzyme dan 1 botol 20 ml shampoo untuk menjadi bukti dari proses pembelajaran yang telah dilakukannya.
Hari Jumat, 13 Februari, kegiatan pembuatan Eco-Enzyme juga diperkenalkan kepada anggota Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa yang berada di Kapenewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Bertempat di bumi lumbung Mataraman, di kalurahan Kebonharjo, berkumpul kurang lebih 20 orang yang terbagi atas lima kelompok untuk mempraktekkan pembuatan eco-enzyme. Farsijana bertindak sebagai fasilitator menggantikan Tsalis Siswanti yang berhalangan hadir. Berada di Kawasan strategis pariwisata nasional Borobudur, kegiatan tersebut dihadiri oleh anggota koperasi konsumen Griya Jati Rasa yang berasal dari Nglinggo di kalurahan Pagerharjo dimana Perkebunan Teh Sukohadi berada. Selain itu, Pak Mardi dari kopi Mbak Mar yang berasal dari kalurahan Sidoharjo juga menghadiri pelatihan. Bersama mereka juga hadir Mas Cahyo dari Café Terase di dusun Gowok, Kalurahan Kebonharjo. Dusun Kleben, kalurahan Kebonharjo dimana kegiatan pelatihan dilakukan menghadirkan anggota koperasi konsumen Griya Jati Rasa dari Kelompok Wanita Tani Manunggal Karya. Pelatihan dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada anggota kelompok untuk mengenali jenis sisa sayuran dan buah yang bisa digunakan untuk membuat Eco-Enzyme. Dalam tiga bulan ke depan, panen Eco-Enzyme akan dilakukan pada tanggal 13 Mei 2026, diharapkan bisa memberikan inspirasi kepada anggota Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa yang berada di Kawasan Strategis Wisata Nasional untuk siap memelihara lingkungannya baik dengan menghadirkan aroma alamiah di sekitar areal wisata, maupun dalam penggunaan Eco-Enzyme sebagai pupuk, peptisida yang alamiah untuk memastikan keamanan dan kesehatan lingkungan dari air penggunungan yang mengalir membelah bukit Menoreh. Farsijana juga mengharapkan anggota koperasi dengan produk olahan unggulannya bisa membuat Eco-Enzyme dari campuran sisa bahan organic kopi, teh, coklat, padi dan lainnya untuk memberikan ciri khas Eco-Enzyme bukit Menoreh yang merupakan lumbung Mataram untuk Yogyakarta dan daerah sekitarnya (Farsijana)
Berita publikasi dapat dibaca pada Jornal Jogja dan Jogja Broadcast.